Cara Budidaya Ikan Kerapu Di Keramba Jaring Apung “Panen Melimpah”

Diposting pada

Cara Budidaya Ikan Kerapu

Budidaya kerapu tikus dapat dilakukan dengan memakai bak semen atau dengan memakai keramba jaring apung (KJA). Budidaya kerapu di jaring apung akan bekerja dengan baik (pertumbuhan cepat dan kelangsungan hidup tinggi) ketika memilih jenis ikan yang dibudidayakan, ukuran benih yang ditebar, dan kepadatan penyebaran yang tepat.

Budidaya Ikan Kerapu Di Keramba Jaring Apung


Pemilihan Benih

Kriteria benih kerapu yang baik adalah: ukurannya seragam, bebas penyakit, gerakan berenang tenang dan tidak melakukan gerakan tidak teratur atau gelisah tetapi akan bergerak aktif saat ditangkap, merespons pakan yang baik, warna cerah, mata cerah, sisik dan sirip lengkap dan tidak cacat.

  • Penebaran Benih

Proses penyebaran benih sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup benih. Sebelum menabur, perlu disesuaikan terlebih dahulu dengan kondisi lingkungan budidaya. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam adaptasi ini adalah:

  1. waktu stocking (seperti pagi atau sore hari, atau selama cuaca sepi),
  2. sifat kanibalisme yang cenderung meningkat pada kepadatan tinggi, dan
  3. aklimatisasi, terutama suhu dan salinitas.
  • Pendederan

Benih ikan kerapu berukuran panjang 4-5 cm dari tangkapan dan dari hasil penetasan, mereka pertama-tama dikeringkan dalam jaring nilon berukuran 1,5 x 3 x 3 meter dengan kepadatan ± 500 ekor. Sebulan kemudian, penilaian dilakukan (ukuran sortir) dan mengubah jaring. Ukuran jaring ditentukan, hanya kepadatannya menjadi hanya 250 burung per jaring sampai mencapai ukuran lembaran (20-25 cm atau 100 gram). Setelah itu dipindahkan ke ukuran besar 3 x 3 x 3 meter dengan kepadatan optimal 500 ekor dan kemudian dipindahkan ke kandang pembesaran hingga mencapai ukuran konsumsi (500 gram).

  • Pakan dan Pemberiannya

Biaya pakan adalah biaya operasi terbesar dalam budidaya kerapu di KJA. Karena itu, pilihan jenis pakan harus benar-benar sesuai dengan kualitas gizi, rasa ikan dan harga. Pakan dicoba untuk disebarkan seluas mungkin, sehingga masing-masing ikan memiliki peluang yang sama untuk mendapat pakan. Pada tahap pembibitan, pakan diberikan dalam ad libitum (hingga penuh).

Sedangkan untuk pembesaran adalah 8-10% dari total berat badan per hari. Makan harus dilakukan di pagi dan sore hari. Makanan alami dari ikan kerapu adalah ikan rucah (potongan ikan) dari tanjan, tembang, dan lemuru. Benih ikan kerapu yang baru diisi dapat diberi pakan pelet komersial. Untuk 1.000 ikan, 100 gram pelet dapat diberikan per hari. Setelah ± 3-4 hari, pelet dapat dicampur dengan ikan rucah.


Hama dan Penyakit

Jenis-jenis hama yang berpotensi mengganggu budidaya kerapu di KJA adalah ikan buntal, burung, dan kura-kura. Sedang, jenis penyakit menular yang sering menyerang kerapu adalah:

  1. penyakit yang disebabkan oleh serangan parasit, seperti: parasit krustasea dan flatworm,
  2. protozoa, seperti: cryptocariniasis dan broollynelliasis,
  3. penyakit yang disebabkan oleh jamur (jamur), seperti: saprolegniasis dan ichthyosporidosis,
  4. penyakit yang disebabkan oleh serangan bakteri,
  5. penyakit virus, yaitu VNN (Viral Neorotic Nerveus).

Konstruksi Keramba Jaring Apung

  • Pembuatan Rakit Keramba

1. Rakit

Rakit dapat dibuat dari kayu, bambu atau besi yang dilapisi dengan stainless. Ukuran bingkai rakit biasanya 6 x 6 m atau 8 x 8 m.

2. Pelampung

Untuk mengapung satu unit rakit, pelampung diperlukan dari bahan drum bekas atau drum plastik 200 liter, busa styre dan drum fiberglass. Kebutuhan pelampung untuk satu unit rakit 6 x 6 meter dibagi menjadi 4 bagian membutuhkan pelampung 8-9 dan 12 pelampung untuk rakit 8 x 8 meter. Pelampung yang akan digunakan adalah drum plastik volume 200 liter yang 35 buah. Sebelum digunakan, ke dalam drum, wadah dimasukkan ke dalam sedikit karbida. Penggunaan karbida ini bertujuan untuk mengisi udara di pelampung, sehingga daya apung akan lebih baik.

3. Pengikat

Pengikat rakit bambu dapat digunakan dengan kawat berdiameter 4-5 mm atau tali plastik polyetheline. Rakit yang terbuat dari kayu dan besi, diikat menggunakan baut. Untuk mengikat pelampung ke bingkai tali PE dengan diameter 4-6 mm digunakan.

4. Jangkar

Untuk menahan rakit agar tidak terbawa oleh aliran air, digunakan jangkar besi atau semen. Berat dan bentuk jangkar disesuaikan dengan kondisi perairan setempat. Setidaknya 4 unit jangkar per unit kandang dengan berat 25-50 kg, penempatannya agar rakit tetap pada posisinya. Tali jangkar yang digunakan adalah tali plastik / Polyetylene dengan diameter 0,5-1,0 inci dengan panjang minimal 2 kali kedalaman air.

  • Pembuatan Jaring

1. Jaring

Kantong jaring yang digunakan dalam usaha budidaya kerapu harus terdiri dari dua bagian, yaitu:

  • Kantung jaring luar yang berfungsi sebagai pelindung ikan dari serangan ikan liar dan hewan air lainnya. Ukuran tas dan lebar jaring untuk tas jaring luar lebih besar dari kantong jaring yang dalam;
  • Kantong jaring dalam, yang digunakan sebagai tempat untuk memelihara ikan. Ukuran
    bervariasi dengan pertimbangan jumlah ikan yang dipelihara dan kemudahan penanganan dan pemeliharaan.

Ada 3 (tiga) level ukuran waring / net:

  1. Waring chart dengan ukuran mesh sekitar 0,5 cm
  2. Net mesh ukuran polyethylene 1,0 inch, dan
  3. Jaring polietilen 1,5 inci. Setiap unit KJA memiliki 6 buah waring (3 buah digunakan dan 3 buah untuk pengganti waring), 6 jaring polietilen 1,0 inci (3 buah digunakan dan 3 buah untuk jaring pengganti), dan 6 jaring polietilen berukuran 1 mesh, 5 inci (3 lembar digunakan dan 3 buah untuk jaring pengganti).

2. Pemberat

Fungsi pemberat untuk menahan arus dan menjaga jaring tetap simetris. Balast yang terbuat dari batu, timah atau beton seberat 2-5 kg ​​per potong, dipasang di setiap sudut kandang / jaring.


Panen dan Pasca Panen

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan untuk menjaga kualitas ikan kerapu yang dibudidayakan dengan KJA meliputi: waktu panen, peralatan panen, teknik panen, dan penanganan pasca panen. Waktu panen, biasanya ditentukan oleh besarnya permintaan pasar. Ukuran super biasanya berukuran 500 – 1000 gram dan merupakan ukuran yang memiliki nilai jual tinggi. Pemanenan harus dilakukan pada pagi atau sore hari sehingga dapat mengurangi tekanan ikan saat panen karena saat cuaca tidak terlalu panas. Peralatan yang digunakan saat panen, dalam bentuk: sendok, desain, timbangan, alat tulis, kapal, alat transportasi dan alat aerasi.

Teknik panen dilakukan dalam budidaya kerapu di KJA dengan panen selektif dan metode panen total. Panen selektif adalah panen ikan yang telah mencapai ukuran tertentu sesuai permintaan pasar, terutama dengan harga tinggi. Sedangkan total panen adalah panen keseluruhan, yang biasanya dilakukan jika permintaan pasar sangat besar atau ukuran semua ikan telah memenuhi kriteria penjualan.

Penanganan pasca panen utama adalah masalah pengangkutannya ke tujuannya. Ini dimaksudkan untuk menjaga kesegaran ikan dalam kondisi yang baik. Ini dilakukan dengan dua cara, yaitu transportasi terbuka dan transportasi tertutup. Transportasi terbuka digunakan untuk jarak angkut yang dekat atau melalui jalan darat yang memiliki waktu transportasi maksimum hanya 7 jam.

Wadah pengangkut adalah drum plastik atau fiberglass yang telah mengisi 1/2 hingga 2/3 wadah dengan air laut sesuai dengan jumlah ikan. Suhu laut dijaga konstan sepanjang perjalanan, 19-21-21C. Selama transportasi, air perlu ditampilkan dengan kepadatan ikan sekitar 50 kg / kontainer. Metode transportasi yang biasa digunakan adalah transportasi tertutup dan umumnya untuk transportasi dengan pesawat terbang. Untuk itu, 1 paket untuk 1 ikan dengan berat rata-rata 500 gam.

Baca Juga:

Demikian Penjelasan Tentang Cara Budidaya Ikan Kerapu Di Keramba Jaring Apung “Panen Melimpah” Semoga Bermanfaat Bagi Pembaca Setia Lahan.Co.Id