Klasifikasi Tanaman Kangkung Lengkap Serta MorfologinyaKlasifikasi Tanaman

Klasifikasi Tanaman Kangkung – Kangkung (Ipomoea Aquatica) merupakan tanaman sejenis sayuran yang ditanam untuk keperluan pangan. Kangkung banyak dijual di pasar-pasar. 

Klasifikasi Tanaman Kangkung

Kalkung banyak ditemukan di Asia, tidak diketahui asal usulnya. dan merupakan tumbuhan yang dapat ditemukan hampir dimana-mana terutama di perairan. 

Masakan kangkung yang populer adalah cah kangkung dengan bumbu tauco atau terasi, di toko juga ada pelecing kangkung lombok.

Ada dua jenis kangkung yang dijual di pasaran. Yang pertama adalah kangkung dengan daun halus berbentuk mata panah (kangkung air) dengan panjang 10 sampai 15 cm. 

Tumbuhan ini mempunyai batang yang berongga dan menyebar dengan daun berseling dan batang tegak pada pangkal daun. 

Tanaman ini berwarna hijau muda dan menghasilkan bunga berwarna putih yang menghasilkan kantung berisi empat biji. Jenis kedua mempunyai daun sempit memanjang (kubis giling) biasanya tersusun menyirip tiga. 

Kondisi pertumbuhan

Jumlah curah hujan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman kangkung bervariasi antara 500 hingga 5000 mm/tahun.

Tanaman kangkung membutuhkan sinar matahari. Kangkung sangat cocok untuk tanaman di daerah beriklim tropis.

Klasifikasi Tanaman Kangkung Lengkap Serta Morfologinya

Klasifikasi Tanaman Kangkung

Tanaman kangkung merupakan tanaman yang memiliki nama latin Ipomea Aquatic Forsk. Klasifikasi tanaman kangkung sendiri akan dijelaskan lebih detail dibawah ini:

  • Kingdom (Kerajaan) :  Plantae
  • Sub Kingdom : Viridiplantae
  • Infra Kingdom : Streptophyta
  • Super Divisi : Embryophyta
  • Division (Divisi) : Tracheophyta
  • Sub Divisi : Spermatophytina
  • Class (Kelas) : Magnoliopsida
  • Ordo : Solanales
  • Famili : Convolvulaceae
  • Genus : Ipomoea L.
  • Spesies : Ipomoea Aquatica Forsk (Kangkung Air)
  • Spesies : Ipomea Reptans Poir (Kangkung Darat)

Morfologi tumbuhan Kangkung

Setelah kita mengetahui klasifikasi tanaman kangkung seperti yang telah dijelaskan di atas, selanjutnya kita akan membahas ciri-ciri morfologi yang menyusun tanaman kangkung, antara lain:

Akar : Klasifikasi Tanaman Kangkung

Tanaman kangkung mempunyai sistem akar tunggang dengan banyak cabang yang menjulur ke berbagai arah. Kangkung sendiri merupakan tanaman yang tumbuh lama.

Akar kangkung dapat menembus tanah hingga kedalaman 60 – 100 cm dan juga dapat menjalar mendatar hingga jarak 150 cm terutama untuk jenis kangkung. 

Batang : Klasifikasi Tanaman Kangkung

Pada tanaman kangkung, batangnya berbentuk bulat dan berlubang serta banyak mengandung air, bahkan pada varietas kangkung darat.

Sifat batang tanaman ini adalah mempunyai ruas dan dari ruas tersebut biasanya muncul akar serabut yang berwarna putih atau coklat tua.

Batang tanaman kangkung juga mempunyai banyak cabang dan setelah tumbuh cukup lama biasanya batang tanaman akan membesar terutama kangkung. Sedangkan kangkung umumnya tumbuh tegak seperti tanaman darat lainnya. 

Daun : Klasifikasi Tanaman Kangkung

Tangkai daun tanaman kubis terletak pada ruas-ruas batang. Pada ketiak daun kangkung terdapat tunas yang dapat tumbuh menjadi cabang baru. Umumnya bentuk tanaman kangkung berbentuk kerucut seperti kangkung tanah, namun ada pula yang tumpul seperti kangkung air.

Sisi atas daun berwarna hijau tua, sedangkan sisi bawah berwarna hijau muda. Daunnya sendiri memiliki warna hijau keputihan.

Kangkung air memiliki struktur daun yang lebar dan warnanya hijau lebih muda dibandingkan kangkung darat. 

Bunga

Umumnya bunga tanaman kangkung berbentuk terompet. Mahkota bunganya berwarna putih dan merah.

Buah

Tanaman kangkung juga mempunyai buah yang berbentuk lonjong dengan 3 biji di dalamnya, seolah-olah buahnya menempel pada bijinya.

Kangkung berwarna hijau ketika masih muda dan akan berubah menjadi hitam ketika sudah mencapai usia lanjut. Buahnya sendiri tidak bertahan lama dan cenderung kecil, hanya berkisar 10mm.

Biji 

Biji atau biji kangkung berbentuk bulat dan bersegi. Warna bijinya coklat kehitaman jika sudah tua dan hijau jika masih muda. Biji tanaman kangkung merupakan biji yang berkeping dua atau berkeping dua.

Untuk kubis jenis terestrial, biji tanaman ini berfungsi sebagai alat perbanyakan tanaman yang terjadi secara generatif.

Kelompok kultivar

Kangkung yang dibudidayakan dibagi menjadi empat kelompok budidaya.[1] Kangkung padi (Kelompok Dataran) merupakan kelompok yang paling terkenal dan tumbuh liar di rawa-rawa dangkal dan sawah terlantar. 

Ini adalah makanan tradisional yang dimakan orang. Kelompok selanjutnya adalah kelompok kubis giling atau kelompok Alba yang dulu dikenal dengan nama Ipomoea reptans Poir. tapi nama ini sekarang dianggap tidak valid.

Kubis giling memiliki daun yang lebih sempit dan lebih cocok di tanah kering, sehingga dapat ditanam di ladang atau bahkan kebun. Kelompok selanjutnya adalah kelompok kubis berdaun ungu atau Kelompok Rubra.

Kelompok ini memiliki daun dan bunga berwarna merah atau ungu, daunnya agak lebar namun cocok juga untuk lahan kering. Kelompok terakhir adalah kelompok kubis kering atau kelompok Dataran Tinggi yang dalam bahasa Kanton dikenal dengan sebutan hon ngung choi.

Kegunaan

Hampir semua tanaman muda bisa dimakan. Karena kubis tua memiliki serat yang tebal, kubis muda lebih populer. Bisa dimakan mentah atau dimasak seperti bayam. Kangkung juga sering digoreng seperti cah. Plecing kangkung merupakan menu terkenal dari daerah Lombok. 

Dua jenis tanaman ditanam: kering dan basah. Dalam kedua kasus tersebut, tanaman ini membutuhkan bahan organik (kompos) dan air dalam jumlah besar agar tanaman dapat tumbuh subur. 

Pada penanaman kering, kangkung ditanam dengan jarak 5 inci di bagian tepinya dan ditopang dengan teralis. Kangkung bisa ditanam dari biji atau stek akar. Seringkali ditanam di pembibitan sebelum dipindahkan ke kebun. 

Daun kangkung sudah bisa dipanen 6 minggu setelah tanam. Jika penanaman basah digunakan, stek sepanjang 12 inci ditanam di lumpur dan dibiarkan lembab. Saat kubis tumbuh, area basah dibanjiri hingga ketinggian 6 inci dan digunakan aliran air yang lambat. 

Aliran air ini berhenti ketika tanah perlu digemburkan. Pemanenan dapat dilakukan pada umur 30 hari setelah tanam. Jika Anda memanen bagian atas tanaman, maka cabang di tepi daun akan tumbuh kembali dan dapat dipanen setiap 7-10 hari sekali.