Klasifikasi Tanaman Kentang, Morfologi Dan Manfaatnya

Klasifikasi Tanaman Kentang – Kentang, ubi jalar, ubi belanda atau ubi bengal merupakan tumbuhan dalam famili Solanaceae yang mempunyai umbi batang yang dapat dimakan dan disebut “kentang”.

Klasifikasi Tanaman Kentang

Umbi kentang kini telah menjadi makanan pokok penting di Eropa, meski awalnya diimpor dari Amerika Selatan. Penjelajah Spanyol dan Portugis adalah orang pertama yang membawa dan membudidayakan tanaman ini di Eropa.

Tanaman kentang berasal dari Amerika Selatan dan telah dibudidayakan di sana selama ribuan tahun.

Tanaman ini merupakan tanaman herba tahunan (tanaman rendah, tidak berkayu) dan menyukai cuaca sejuk. Di daerah tropis cocok ditanam di dataran tinggi. Bunganya sempurna dan tersusun majemuk. Ukurannya cukup besar, dengan diameter kurang lebih 3 cm. Warnanya bervariasi dari ungu hingga putih.

Klasifikasi Tanaman Kentang, Morfologi Dan Manfaatnya

Klasifikasi Tanaman Kentang

Tanaman kentang merupakan tanaman batang yang umumnya tumbuh di dalam tanah. Sedangkan ciri-cirinya adalah ujung atau tuberkelnya akan membengkak hingga sebesar kepalan tangan.

Padahal, umbi kentang memiliki fungsi menyimpan unsur hara yang diperlukan tanaman itu sendiri. Ada juga yang menyebutnya umbi dan akar, yang mempunyai kekhasan karena bisa dikonsumsi manusia.

Sedangkan di permukaan, tepatnya pada batang, akan tampak penuh sisik. Sementara itu, tunas akhirnya terlihat muncul.

Tanaman kentang sendiri merupakan tanaman berjenis Solanaceae. Tanaman hasil persilangan umbi kentang dengan umbi dahlia disebut Jerusalem artichoke.

Tanaman kentang mempunyai nama latin Solanum fober. Maksudnya tanaman kentang adalah tanaman yang umbinya tumbuh dari batangnya. Terkadang umbi juga tumbuh berkat metabolisme struktur batang tanaman. 

  • Divisi tracheophyta
  • Subdivisi spermatofit
  • kelompok angiospermae
  • Kelompok mesangiospermae
  • klade eudikotik
  • Kelompok eudicot tengah
  • sekelompok asteroid
  • clade Lamiidas
  • Pesan Solanales
  • keluarga nightshade
  • Subfamili Solanoideae
  • Suku Solaneae
  • genus Solanum
  • Spesies Solanum tuberosum

Morfologi tanaman kentang

Setelah mengetahui klasifikasi tanaman kentang, maka agar lebih lengkap perlu dijelaskan juga mengenai morfologi tanaman kentang. Inilah morfologi yang dimaksud:

Daun  : Klasifikasi Tanaman Kentang

Daun pada tanaman kentang. Ciri-ciri yang pertama adalah daun kentang hidup bergerombol dan berbentuk lonjong. 

Selain itu, struktur ujung daun agak meruncing dan bagian samping tampak bersisik. Fungsi daun tersebut adalah untuk memperlancar proses fotosintesis pada tumbuhan. Oleh karena itu, seperti halnya di dapur manusia, daun juga diperlukan untuk membantu perkembangan tanaman kentang. Daun kentang memiliki warna hijau muda. 

Sedangkan setelah siap dipanen, daun kentang umumnya berwarna hijau tua. Ciri lainnya adalah di bawah daun kentang terdapat bulu-bulu yang tipis dan tipis. Tapi tidak perih meski menyentuh kulit. Sedangkan bulu-bulu tersebut lebih terlihat pada daun kentang yang berwarna merah.

Batang : Klasifikasi Tanaman Kentang

Tanaman kentang memiliki batang berbentuk persegi panjang atau persegi. Batang berbentuk segi lima juga terkadang ditemukan.

Biasanya batang tanaman kentang mempunyai konsistensi yang keras dan padat. Warna batang hijau keunguan tua disebabkan oleh pengendapan pigmen ungu di bawah permukaan.

Batang kentang mempunyai diameter yang kecil. Bahkan ukurannya sangat kecil dibandingkan dengan batang tanaman lain yang mempunyai rimpang.

Tak hanya itu, ukurannya juga tidak terlalu panjang. Batang tanaman kentang yang banyak dijumpai ini hanya berukuran 50 hingga 120 sentimeter.

Baca Juga

Umumnya ada tiga jenis batang kentang yang ditanam di Indonesia. Artinya, batang tegak, menyebar dan menyebar.

Jika masih muda, batang tanaman kentang tidak berkayu dan terlihat rongga di dalamnya. Namun jika batangnya sudah tua dan umbinya siap dipanen, biasanya batangnya menjadi berkayu.

Bunga

Tanaman kentang juga mempunyai bunga yang warna dominannya merah dan ungu. Namun ada juga jenis tanaman kentang lain yang warna bunga dominannya putih.

Kemudian akan muncul kentang dari bunga ini, dengan ciri-cirinya ketika masih muda akan berwarna hijau. Namun bila sudah agak tua, warnanya biasanya berubah menjadi putih pucat, ungu dan sedikit berlendir.

Kentang mengandung selenium yang sangat tinggi. Oleh karena itu, jangan pernah mengkonsumsinya. Pasalnya racun yang terkandung dalam buah ini bisa mematikan.

Akar

Akar tanaman kentang cenderung menyebar. Meski ukurannya tidak berlebihan, pada beberapa spesies akarnya malah sangat halus. Akar ini biasanya berwarna putih pucat dan bila sudah agak tua dan siap berbuah biasanya berubah menjadi kuning kecoklatan. Akar ini tertanam dalam tanah hingga kedalaman 45 cm. Ini adalah ukuran maksimal sedangkan yang umum hanya sedalam 25 cm.

Umbi 

Umbi kentang inilah yang sebenarnya bisa dikonsumsi. Baik mentah, setengah matang, atau dimasak hingga matang. Kulit umbi kentang sangat tipis. Padahal kalau dikupas pasti daging buahnya akan terkelupas. Namun saat ini ketebalan kulit umbi kentang dipengaruhi oleh variasi benih yang digunakan.

Bentuk tanaman kentang bermacam-macam. Bisa besar, kadang kecil, tergantung benih yang ditanam. Jika varietasnya unggul maka umbi yang dihasilkan umumnya berukuran besar.

Manfaat dan racun

Kentang diakui di luar negeri sebagai makanan pokok. Hal ini karena kentang mengandung karbohidrat. Di Indonesia sendiri, kentang masih dianggap sebagai sayuran mewah. Namun kentang adalah makanan yang enak dan bergizi tinggi..

Ia juga diketahui mengandung beberapa vitamin, mulai dari A, B kompleks hingga C dan asam folat. Juga mineral, protein, karbohidrat, karotenoid dan polifenol. Zat solanin yang dikenal sebagai obat penenang, antikonvulsan, antijamur dan pestisida juga terdapat dalam tubuh kentang ini.

Vitamin C yang terkandung dalam kentang per 100 gnya adalah 17 mg. Selain mengandung karbohidrat dan serat, mineral yang dikandungnya antara lain zat besi, fosfor, dan kalium.

Kompres air kentang ini diketahui sangat bermanfaat dalam mengobati luka pada kulit, terutama di negara miskin dimana cangkok kulit sulit dilakukan. 

Bahaya Kentang

Namun, jika kentang terkena cahaya, kentang dapat menghasilkan glikoalkaloid berlebih yang disebut solanin, sehingga berbahaya untuk dikonsumsi. 

Bahaya yang mungkin terjadi adalah gangguan sistem saraf, rasa terbakar pada tenggorokan, sakit kepala, kelumpuhan/kelumpuhan pada ekstremitas dan badan terasa dingin. Jika dosisnya antara 3 dan 6 mg, akibatnya bisa berakibat fatal. 

Pengobatan yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian arang aktif/norita, bilas lambung dan pemberian cairan infus.

Oleh karena itu, untuk menghindari munculnya solanin pada kentang yang ingin dikonsumsi, letakkan di tempat yang gelap. 

Memasak solanin dengan suhu tinggi dapat merusak sebagian solanin. Hindari juga makan kentang yang sudah bertunas dan berwarna hijau di bawah kulitnya, karena kandungan alkaloid solaninnya tinggi dan sangat beracun.