Klasifikasi Tanaman Jahe, Jenis Dan Morfologinya Lengkap

Klasifikasi Tanaman Jahe – Jahe (Zingiber officinale) merupakan tanaman yang rimpangnya sering digunakan sebagai bumbu dan bahan baku obat tradisional. 

Klasifikasi Tanaman Jahe

Rimpangnya berbentuk jari dan menjorok ke ruas tengah. Rasa pedas dominan yang dirasakan pada jahe disebabkan oleh senyawa keton bernama zingerone. Jahe termasuk dalam famili Zingiberaceae (ditemukan), yang nama ilmiahnya diberikan oleh William Roxburgh. Jahe dipercaya sebagai tanaman asli Asia Tenggara. 

Diduga penyebarannya disebabkan oleh migrasi yang dilakukan penduduk Austronesia pada abad ke-4 SM. C. melalui Kepulauan Melayu dari Cina Tenggara ke Taiwan. Jahe juga merupakan tanaman khas daerah tersebut bersama lengkuas, jahe putih, dan lempuyang. Jahe memiliki nama ilmiah (Zingiber officinale) yang pertama kali dinamai oleh William Roxburgh dalam bukunya Flora Indica terbitan tahun 1832. 

Batang jahe merupakan batang semu yang tingginya 30 hingga 100 cm. Akarnya berbentuk rimpang, daging buahnya berwarna kuning hingga kemerahan serta berbau menyengat. Daunnya menyirip dan berukuran lebar 15 sampai 23 mm dan panjang 8 sampai 15 mm. Tangkai daunnya berbulu halus

Habitat Tanaman Jahe

Jahe tumbuh baik pada ketinggian 0 hingga 1500 meter di atas permukaan laut, kecuali jahe gajah pada ketinggian 500 hingga 950 meter.

Untuk berproduksi secara optimal diperlukan curah hujan 2.500 hingga 3.000 mm per tahun, kelembaban 80%, tanah lembab dengan PH 5,5 hingga 7,0 dan kandungan unsur hara tinggi. Tanah yang digunakan untuk menanam jahe tidak boleh tergenang air. 

Klasifikasi Tanaman Jahe, Jenis Dan Morfologinya Lengkap

Klasifikasi Tanaman Tahe

  • Kerajaan: Plantae
  • Sub-kerajaan: Viridiplantae
  • Divisi: Tracheophytes
  • Subdivisi : spermatofit
  • Kelas: Magnoliopsida
  • Ordo: Zingiberales
  • Keluarga: Zingiberaceae
  • Genre: Pabrik Zingiber
  • Spesies: Zingiber officinale Roscoe

Morfologi Tanaman Jahe

Rimpang

Rimpang tanaman jahe merupakan tanaman jahe yang biasa kita temukan di pasaran. Rimpang sendiri merupakan modifikasi dari batang kemudian menjadi umbi untuk menyimpan cadangan makanan. Rimpang juga digunakan untuk memperbanyak tanaman jahe. 

Dari rimpang tersebut, tunas dan akar akan berkembang menjadi tanaman baru. Warna dan ukuran rimpang jahe berbeda-beda tergantung varietasnya. 

Umumnya yang sering kita jumpai, rimpang jahe berbentuk seperti buku, agak pipih dan memanjang ke segala arah. Kulit luarnya berwarna coklat muda dan daging buahnya berwarna kuning muda. Ada jahe merah yang mempunyai rimpang yang kulitnya berwarna merah dan bersisik serta bentuknya lebih tipis dibandingkan jahe pada umumnya. 

Dikenal juga dengan nama jahe gajah (jahe badak) yang ukurannya cukup besar, dan jahe empiris atau jahe kecil. Dari ketiganya yang paling terkenal khasiatnya adalah jahe merah, sedangkan jahe besar lebih banyak digunakan sebagai bumbu masakan, jahe emprit lebih sering digunakan sebagai obat sehari-hari karena lebih mudah didapat.

Akar : Klasifikasi Tanaman Jahe

Tanaman jahe mempunyai akar serabut dan akar ini muncul dari rimpangnya dan berwarna putih pucat. Akar tanaman jahe terbagi menjadi tiga bagian yaitu leher akar, batang akar, dan tudung akar. Tudung akar merupakan ujung akar yang melindungi sel-sel pada ujung akar.

Batang : Klasifikasi Tanaman Jahe

Jahe memiliki batang semu yang dapat tumbuh hingga 1 meter, tumbuh tegak dan tidak bercabang, berwarna hijau tua, berbentuk bulat dan ditumbuhi bulu-bulu halus.

Batang jahe memiliki jaringan lunak dan berair. Batang ini juga merupakan pelepah daun yang saling melingkari.

Baca Juga

Daun 

Daun jahe termasuk jenis daun tunggal dan mempunyai pelepah serta pelepah daun. Bentuk daunnya sempit dan panjangnya kurang lebih 15-23 cm, sedangkan lebarnya hanya kurang lebih 1,5 cm.

Daun-daun ini tumbuh bergantian. Daunnya tepinya rata, ujung daunnya mengerucut tetapi pangkalnya tumpul. Daun jahe memiliki tulang yang sejajar dan seluruh permukaan daunnya halus.

Bunga : Klasifikasi Tanaman Jahe

Bunga jahe muncul dari dalam tanah berbentuk batang bulat dengan panjang batang sekitar 25 cm. Bunga ini merupakan malai yang terdiri dari beberapa bunga. Bunga jahe mempunyai aroma yang sangat kuat dan berbau seperti jahe. Bunga jahe mempunyai mahkota bunga berbentuk tabung dengan panjang 2 – 2,5 cm dan mempunyai 3 kelopak bunga berwarna putih kekuningan, mempunyai kepala sari berwarna ungu dan dua putik, sehingga bunga jahe termasuk bunga hermafrodit. Bunga jahe dilindungi oleh daun pelindung berwarna hijau.

Varietas Jahe Yang Umum Di Budidaya

Ada tiga jenis jahe yang populer di pasaran, yaitu:

Jahe Gajah/Jahe Badak

Ini adalah jahe paling populer di pasar internasional. Itu besar dan berlemak dan rasanya tidak terlalu pedas. Daging rimpang berwarna kuning sampai putih. 

Jahe kuning

Jahe banyak digunakan sebagai bumbu kuliner, terutama untuk konsumsi lokal. Rasa dan aromanya cukup pekat. Rimpang berukuran sedang dengan warna kuning.

Jahe merah

Jahe jenis ini memiliki kandungan minyak atsiri yang tinggi dan rasa yang sangat pedas sehingga cocok digunakan sebagai bahan dasar produk farmasi dan herbal. Ia juga digunakan sebagai pengawet alami dalam industri makanan karena kandungannya memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri patogen dan pembusukan makanan. Ukuran rimpangnya paling kecil, kulitnya berwarna merah, seratnya lebih besar dibandingkan jahe pada umumnya. 

Produk olahan jahe

Di masyarakat Barat, ginger ale merupakan produk yang populer. Sedangkan Jepang dan China sangat menghargai acar jahe. Orang Cina, Eropa, dan Jepang menyukai sirup jahe.

Di Indonesia, sekoteng, bandrek, dan wedang jahe merupakan minuman yang digemari karena mampu memberikan rasa hangat di malam hari, terutama di daerah pegunungan. dalam proses

Rimpang jahe, apalagi yang dipanen pada usia muda, tidak tahan lama jika disimpan. Untuk itu perlu diolah secepatnya agar tetap layak untuk dikonsumsi. Untuk memperoleh rimpang jahe yang berkualitas, maka jahe dipanen pada umur yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua.

Jahe segar

Selain dipasarkan dalam bentuk olahan jahe juga dipasarkan dalam bentuk jahe segar yaitu setelah dipanen jahe dibersihkan dan dijual di pasaran. Yaitu sepotong jahe kering yang dipotong tipis-tipis (digebing). Jenis ini sangat dihargai di pasar tradisional. jahe yang diawetkan

Ini merupakan hasil pengolahan tradisional jahe segar. Yang paling banyak beredar di pasaran adalah jahe berwarna, acar, acar, sirup, dan jahe instan. Konsumen di Asia dan Australia menikmati berbagai jenis olahan jahe.

Jahe bubuk

Jahe merupakan hasil pengolahan lebih lanjut dengan menggunakan teknologi industri, jahe dikeringkan kemudian digiling hingga kehalusan butiran bubuk yang ditentukan. Bubuk jahe dibutuhkan untuk keperluan farmasi, minuman, alkohol dan jamu. Jahe kering biasanya digunakan sebagai bahan baku. 

Oleoresin jahe

Ini merupakan hasil pengolahan lebih lanjut dari tepung jahe. Warnanya coklat dengan kandungan minyak atsiri 15 sampai 35%. Mengandung komponen bioaktif berupa senyawa fenolik yang dapat berperan sebagai antioksidan yaitu gingerol, shogaol dan zingerone. Ketiganya berkhasiat mencegah penyakit degeneratif, seperti kanker dan penyumbatan pembuluh darah.