Budidaya Nila Bioflok Mudah Di Fahami Dan Dilaksanakan

Budidaya Nila Bioflok – Ikan nila merupakan jenis ikan yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat dan memiliki pasar yang besar serta nilai jual yang tinggi. 

Budidaya Nila Bioflok

Tilapia memiliki keunggulan dibandingkan ikan lainnya yaitu. Mudah tumbuh di petak sempit dengan kerapatan tinggi. Teknologi pertanian relatif mudah dikuasai oleh masyarakat.

Pemasaran relatif mudah. Modal usaha yang dibutuhkan juga relatif rendah. Waktu penahanan relatif lebih singkat.

Melalui teknologi bioflok, budidaya ikan nila diharapkan mampu mengatasi permasalahan budidaya ikan di perkotaan khususnya budidaya ikan nila. Selain meningkatkan produksi tambak ikan yang ramah lingkungan, berkelanjutan dan mampu meningkatkan keberhasilan dan produksi ikan nila.

Budidaya Nila Bioflok Mudah Di Fahami Dan Dilaksanakan

Persiapan Media Budidaya Nila Bioflok

Penyiapan media pemeliharaan dalam sistem bioflok sangatlah penting. Dimana pengolahan tanah air yang digunakan dalam sistem bioflok sangat menentukan keberhasilan sistem ini karena sistem bioflok menggunakan keberadaan bakteri sebagai komponen utamanya untuk membentuk serpihan bakteri (gumpalan buih putih), sehingga persiapan tanah harus dilakukan dengan benar. .

Alat dan bahan yang digunakan dalam penyiapan media (1 m3 air) yaitu :

  • Air untuk mengisi kolam. Garam laut 1kg/m3.
  • Molase 100 ml/m3 atau gula pasir 100 gram/m3.
  • Probiotik 10 gr/m3.

Kapur dolomit 50 gr/m3. Langkah-langkah persiapan substrat dapat dilakukan dalam langkah-langkah berikut:

  • Isi kolam dengan air hingga ketinggian 80 cm dan aerasi;
  • Masukkan garam yang sudah dilarutkan;
  • Kemudian kapur dolomit dilarutkan dan diletakkan di tengah kolam;
  • Lalu masukkan tetes tebu yang sudah dilarutkan dalam air;
  • Selanjutnya, masukkan probiotik yang telah dilarutkan dalam air ke dalam kolam.

Persiapan Benih Budidaya Nila Bioflok

Sebelum menyemai benih di tengah kolam, ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat memilih benih ikan. Baik kondisi fisik maupun biologis ikan.

Kondisi semen ikan yang akan disimpan sangat mempengaruhi keberhasilan budidaya, apalagi sistem bioflok menggunakan bakteri sebagai pengurai dan flakes (gumpalan buih putih). 

Oleh karena itu kondisi dan kualitas benih ikan harus benar-benar baik dan layak untuk ditanam.

Sehingga tingkat kegagalan dan kematian ikan dapat dikendalikan dengan baik. Kriteria benih ikan yang baik memiliki beberapa aspek, antara lain: ukuran dan bentuk tubuh benih yang seragam, benih tampak aktif dan lincah, responsif terhadap pemberian makan, tidak cacat atau terluka, dan tidak sakit.

Tebar Benih Budidaya Nila Bioflok

Beberapa langkah penting dilakukan dalam proses pengawetan ikan agar benih ikan tidak stress. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah proses aklimatisasi, waktu pemeliharaan, dan padat tebar ikan di dalam tambak.

Proses aklimatisasi adalah proses adaptasi benur dengan lingkungan baru. Proses ini dilakukan dengan tujuan agar benih ikan tidak mengalami stress. 

Ikan yang stress saat restocking akan mengakibatkan kondisi ikan semakin memburuk, nafsu makan menurun hingga benih ikan mati. Proses aklimatisasi meliputi aklimatisasi terhadap suhu dan pH.

Pengaturan waktu penyimpanan ikan dalam proses pembesaran merupakan proses yang tidak boleh dilakukan sembarangan. 

Lama penyimpanan ikan akan mempengaruhi tingkat stres ikan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan suhu air tambak dan air pada sarana pengangkutan ikan yang berbeda. 

Waktu yang baik untuk menebar benih ikan adalah pada pagi dan sore hari saat suhu air kolam relatif sejuk. 

Waktu restocking ikan di pagi hari adalah pukul 08:00 – 09:00, sedangkan sore hari pukul 15:30 – 16:30. 

Kepadatan populasi spitfish merupakan faktor yang sangat menentukan pertumbuhan dan produksi ikan. 

Kepadatan populasi yang tinggi akan mengganggu proses fisiologis dan perilaku ikan terhadap ruang angkasa, yang pada akhirnya dapat menurunkan kondisi kesehatan dan fisiologis ikan. 

Kepadatan pemeliharaan benih pada sistem bioflok untuk ikan nila adalah 25-250 ekor/m3.

Pemeliharaan

Memelihara ikan nila dengan sistem bioflok tentunya sangat penting untuk menunjang keberhasilan budidaya sistem bioflok. 

Beberapa pedoman pemeliharaan ikan yang dapat dilakukan adalah pemeliharaan selama 4 hari pertama, dosis pakan yang diberikan adalah 1-1,5% wt dari total biomassa/hari, pengecekan volume sekolah pada hari kelima sebelum aplikasi lainnya. 

Kontrol flok pada periode berikutnya dilakukan setiap 4 hari sekali, dosis pakan dari hari ke-5 hingga panen dilakukan dengan kenyang (sampai kenyang) atau dengan dosis normal dikurangi 25% dari berat biomassa/hari.

Menajemen dilakukan 2 kali sehari dengan kandungan protein 28-30%  pada pagi & sore hari. Probiotik ditambahkan jika volume bioflok selama bulan pertama belum mencapai 20 ml/liter. Penambahan probiotik dapat dilakukan bersamaan dengan aplikasi sebelumnya.

Aplikasi lanjutan dilakukan dengan menambahkan tetes tebu atau gula pasir pada hari ke 5, 20, 50, dan 80. 

Penambahan dolime dilakukan jika terjadi shock pH atau penurunan pH yang cenderung asam (< 7). Dengan demikian, penambahan air dilakukan hanya untuk mengganti air yang menguap atau mengganti air yang dikeluarkan saat volume bioflok melebihi standar.

Baca Juga

Pengolahan Air

Pengelolaan air sangat penting dalam akuakultur. Tugas pengelolaan air dapat diselesaikan dengan menambahkan sumber probiotik dan karbon (C) ke media.

 Pemberian probiotik dan sumber C dapat dilakukan pada hari ke 5 dan 20, sedangkan tambahan sumber C hanya ditambahkan pada hari ke 50 dan 80. 

Dengan menambahkan sumber karbon pada media berair, molase/gula pasir dapat digunakan dengan perbandingan 100 mL per 150 gram pakan diberikan konstanta molase/gula.

Manajemen Pakan

Setelah benih disemai di kolam, benih didiamkan selama 2 hari untuk proses adaptasi dengan lingkungan baru sambil menunggu isi perut benar-benar kosong atau bersih. 

Pemberian pakan ikan nila selama 4 hari pertama pemeliharaan diberikan sebanyak 1% dari berat biomassa per hari dengan frekuensi 2 kali yaitu pagi dan sore hari. 

Selain itu, pada hari kelima setelah panen, ikan nila diberi pakan hingga 1-2% bobot biomassa per hari atau kenyang (sampai kenyang/tidak ada lagi pakan yang dikonsumsi). Pakan diberikan 2 kali sehari pada pagi dan sore hari (Sucipto, 2020).

Pakan yang diberikan kepada ikan dapat difermentasi menggunakan bioflok/air tanah probiotik, dimana pakan yang akan diberikan dibasahi secara merata menggunakan 200ml air tanah/1kg pakan. 

Adapun penggunaan probiotik yaitu 2ml probiotik dilarutkan dalam 250ml air, kemudian dicampur merata dan disimpan dalam wadah tertutup.

Pemanenan 

Pemanenan Ikan Nila bioflok dapat dilakukan dengan memilih Harvest atau Total Harvest (All). 

Klasifikasi tanaman dilakukan melalui pemilihan ikan yang cocok untuk dikonsumsi atau berdasarkan permintaan pasar dan oleh karena itu berukuran kecil atau dianggap tidak cocok untuk dibudidayakan. 

Panen total biasanya dengan menambah umur ikan agar semua ikan dapat dipanen sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan pasar.