Cara Menanam Cabe Jawa

Cabe Jawa (Piper retrofractum Vahl)

Cara Menanam Cabe Jawa : Perawatan, Bibit, Manfaat Dan PanennyaCabai jawa (Piper retrofractum Vahl.) adalah jenis rempah yang masih berkerabat dengan lada dan kemukus, termasuk dalam suku sirih-sirihan atau Piperaceae. Klasifikasi ilmiah cabe jawa adalah sebagai berikut :

  • Kingdom : Plantae
  • Divisi : Magnoliophyta
  • Kelas : Magnoliopsida
  • Ordo : Piperaleas
  • Famili : Piperacea
  • Genus : Piper
  • Spesies : P. retrofractum
  • Nama binomial: Piper retrofractum Vahl

cara-menanam-cabe-jawa


Cabe jawa atau cabe jamu ini merupakan tanaman penghasil rempah dan fitofarmaka yang penting baik ditinjau dari pemenuhan kebutuhan bumbu dan obat tradisional bagi masyarakat maupun bagi industri makanan, minuman, jamu, dan obat. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam pemanfaatan cabe jawa sebagai obat tradisional adalah sebagai berikut :


Aspek Tinjauan Tanaman Habitat, Budidaya dan Pemanenan

Cabe jawa merupakan tanaman asli Asia Tenggara termasuk Indonesia. Berbagai daerah mengusahakan tanaman ini dan menyebutnya dengan berbagai nama seperti cabe panjang, lada panjang (Melayu), cabe jawa (Sunda), cabe jamu (Jawa), cabe jhamo, cabe solah (Madura), cabia, cabian (Sulawesi). Dalam perdagangan internasional dikenal sebagai java long pepper.


Bentuk tanamannya seperti sirih, merambat, memanjat, membelit, dan melata. Daunnya berbentuk bulat telur sampai lonjong, pangkal daun berbentuk jantung atau membulat, ujung daun runcing dengan bintik-bintik kelenjar. buahnya majemuk bulir, bentuknya bulat panjang atau silindris, dan ujungnya mengecil. Buah yang belum tua berwarna kelabu, kemudian menjadi hijau, selanjutnya kuning, merah, serta lunak. Rasanya pedas dan tajam aromatis.


Batang cabe jawa beruas-ruas, berkayu, dan tumbuh memanjat dengan akar lekat pada buku batang ortotrop. Akar-akar lekat bercabang rapat dan mampu melekat sangat kuat meskipun di dinding beton atau di batu cadas. Cabang ortotrop beruas 6-8 cm dan kalau sudah dewasa berbintik kasar. Cabang plagotrop tumbuh menyamping, beruas lebih pendek yaitu antara 4-7 cm, dan merupakan cabang penghasil buah. Dari pangkal batang utama dapat tumbuh cabang yang tumbuh merambat di tanah membentuk cabang tanah (sulur cacing).


Cabang ini beradaptasi di tanah, berakar adventif pada setiap bukunya, berdaun dan berbatang yang lebih kecil daripada cabang biasa. Apabila menemukan tempat memanjat, maka cabang ini akan berangsur kembali menjadi cabang ortotrop normal dan membentuk pohon baru. Tukulan dari biji tumbuh sebagai sulur cacing yang merayap di tanah sampai menemukan rambatan dan tumbuh membentuk cabang buah. Varietas cabe jawa yang beradaptasi pada habitat batubatu besar untuk merambat memiliki akar lekat yang lebih kuat.


Haryudin dan Rostiana (2009) melaporkan adanya variasi bentuk buah yaitu bulat panjang (conical), bulat pendek (globular), panjang pipih (filiform), dan panjang kecil (cylindrical) dengan ukuran juga bervariasi. Karakter daun juga sangat bervariasi bila dilihat dari panjang daun, lebar daun, tebal daun, panjang tangkai daun dan jumlah daun per cabang, namun yang paling mudah dibedakan adalah bentuk daun yang lanset atau bulat dengan ukuran yang bervariasi dari kecil sampai besar.


Tumbuhan asli Indonesia ini populer sebagai tanaman obat pekarangan dan tumbuh pula di hutan-hutan sekunder dataran rendah (hingga 600m di atas permukaan laut). Cabai jamu dapat tumbuh di lahan ketinggian 0-600 meter dari permukaan laut (dpl), dengan curah hujan rata-rata 1.259-2.500 mm per tahun. Tanah lempung berpasir, dengan struktur tanah gembur dan berdrainase baik, merupakan lahan yang cocok untuk budidaya cabai jamu. Tanaman itu memiliki keunggulan dapat tumbuh di lahan kering berbatu. Keberadaan tanggul batu di pematang tegalan dapat dijadikan media merambatnya cabai jamu secara alami. Di kebun pinggir pantai tanaman ini tidak tumbuh dengan baik, cabang dan daunnya renggang, buahnya sedikit, kemungkinan terkait dengan tingginya salinitas tanah.


Tanaman cabe jawa dikenal mempunyai daya adaptasi yang tinggi, yaitu dapat ditanam pada tanah dengan rentang pH asam sampai basa, tanah yang kurang subur, berbatu, dan iklim yang kering. Tumbuh baik pada berbagai panjatan seperti pohon randu, dadap, gamal, kelor, dan kenari, bahkan dapat tumbuh baik di pohon hutan sengon. Di India tanaman ini hidup liar dan dipanen dari hutan atau dibudidayakan di kebun lada, dan dapat tumbuh dengan baik pada tanah berkapur. Untuk mendukung pertumbuhan yang optimum tanaman cabe jawa membutuhkan lengas tanah yang cukup yaitu 80-100% dari kapasitas lapang.


Artikel Terkait : 9 Cara Menanam Cabe Rawit Agar Berbuah Lebat Dan Perawatannya


Cabe jawa dapat diperbanyak menggunakan biji, stek cabang panjat, stek cabang tanah, dan stek cabang buah. Berikut adalah salah satu contoh cara pembudidayaan cabai jawa :


Persiapan Bibit Cabe Jawa

  1. Sebelum melakukan penanaman cabe jawa, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan benih. Benih yang akan kita gunakan bisa berbentuk biji maupun stek batang.
  2. Untuk pembenihan lewat stek, bagian tanaman yang akan kita stek bisa diambil dari sulur vertikal (sulur panjat) maupun sulur tanah, tapi yang terbaik adalah dari sulur panjat karena bagian ini mudah membentuk cabang.
  3. Calon batang untuk stek sebaiknya diambil dari tanaman yang telah berumur 2 tahun, memiliki sifat-sifat baik yaitu berbuah banyak, tidak terserang penyakit, batang kokoh, subur dan sehat.
  4. Potongan batang yang kita stek tersebut kemudian kita tanam di polybag.

Persiapan Lahan

  • Sebelum memulai penanaman cabe jawa siapkan dulu lahan yang akan kita gunakan untuk budidaya. Lahan sebaiknya milik sendiri bukan lahan sengketa. Lahan yang akan kita tanami bisa berupa sawah atau lahan kebun.
  • Buat parit atau selokan dengan kedalaman kurang lebih 30 cm diantara calon lubang tanam. Panjang parit mengikuti panjang lahan. Parit gunanya untuk mengurangi kadar air dalam tanah. Kadar air dalam tanah yang terlalu tinggi dapat menyebabkan cabe jawa menghitam, busuk dan mati. Namun jika lahan berupa tanah berpasir maka tidak perlu membuat selokan atau parit.

Persiapan Batang Rambatan

  1. Mengingat tanaman cabe jawa merupakan jenis tanaman merambat sehingga tiang panjat menjadi hal yang sangat penting. Tiang panjat yang kita gunakan bisa dari tiang beton dengan tinggi minimal 2 meter atau dari batang tanaman hidup seperti seno, kelor ramban/ yodium, atau dari pohon randu. Jarak penancapan tiang minimal 1,5 m x 1,5 m.
  2. Tanaman cabe jawa jika sudah berumur 3 bulan pertumbuhannya sangat cepat. Jika tiang panjat menggunakan batang tanaman, sebaiknya pemasangan tiang panjat dilakukan jauh-jauh hari. Sehingga saat penanaman cabe jawa tiang panjat sudah mulai bersemi.

Cara Menanam Cabe Jawa

Jika semua persiapan sudah selesai langkah selanjutnya adalah penanaman cabe jawa.

  • Sebelum menanam, buat terlebih dahulu lubang tanam di bawah tiang panjat dengan ukuran 30 x 30 cm, dengan kedalaman kurang lebih 20 cm.
  • Beri pupuk kompos/kandang dengan dosis 1-1,5 kg per lubang.
  • Taburi kapur dolomit untuk menjaga keasaman tanah.
  • Biarkan selama satu minggu
  • Tanam bibit cabe jawa dengan cara melepaskannya secara perlahan-lahan dari polybag.

  • Sebelum ditanam, cabe jamu yang ada di polybag disiram terlebih dahulu.
  • Kemudian polybag pada bibit ditekan-tekan dengan perlahan agar media tanah dalam polybag mengeras.
  • Selanjutnya robek polybag tersebut menggunakan silet atau gunting
  • Lepaskan plastik polybag dari bibit, kemudian masukkan bibit ke dalam lubang tanam
  • Kemudian benamkan bibit tersebut sampai tanah sampai media tanah pada polybag tertutup semua
  • Siram bibit cabe jamu dengan air secukupnya
  • Tutupi beri naungan bibit tersebut menggunakan pelepah pisang yang berbentuk segitiga selama 1 bulan. Hal ini bertujuan untuk menghindarkan bibit dari kontak langsung dengan cahaya matahari. Karena bibit masih rentan layukarena sinar matahari
  • Kemudian siram tanaman 1 sampai 2 hari sekali.

Artikel Terkait : Cara Menanam Cabe Hidroponik Dalam Botol


Pemupukan Tanaman Cabe Jawa

Pemupukan dilakukan pada saat tanaman cabe jawa berusia 3 bulan dari masa tanam. Pemupukan yang terbaik menggunakan kombinasi pupuk organik dan anorganik. Berikut ini panduan pemupukan tanaman cabe jawa:

  • Pupuk organik

  1. Pemupukan untuk tanaman usia <1 tahun = 5 kg/pohon/tahun, komposisi pupuk kandang.
  2. Pemupukan untuk tanaman usia >1 tahun = 10 kg/pohon/tahun, komposisi pupuk kandang
  3. Pemupukan untuk tanaman usia >2 tahun = 15 kg/pohon/tahun, komposisi pupuk kandang
  • Pupuk anorganik

  1. Pemupukan untuk tanaman usia <1 tahun = 50 gram/pohon/tahun, komposisi urea, SP-36,KCL perbandingan (1:1:1)
  2. Pemupukan untuk tanaman usia >1 tahun = 50 gram/pohon/tahun, komposisi urea, SP-36,KCL perbandingan (1:1:2)
  3. Pemupukan untuk tanaman usia >2 tahun = 75 gram/pohon/tahun, komposisi urea, SP-36,KCL perbandingan (2:1:2)

Penempelan Sulur

Penempelan sulur dimulai sejak bibit baru ditanam. Untuk menempelkan sulur sebaiknya menggunakan pelepah pisang yang sudah kering atau gedebok pisang. Pelepah atau gedebok pisang dalam beberapa bulan akan putus karena pelapukan sehingga tidak mengganggiu pertumbuhan tanaman.


Perawatan Cabe Jawa

  1. Perawatan tanaman cabe jawa meliputi penyiraman, penyiangan, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman.
  2. Lakukan pembersihan atau penyiangan terhadapa gulma-gulma yang mengganggu tanaman.
  3. Pada saat musim kemarau lakukan penyiraman ekstra agar tanaman tidak mengalami kekeringan yang dapat menyebabkan kematian.
  4. Untuk membantu mengurangi penguapan berikan sisa batang padi/ damen atau serabut kelapa yang ditumpuk mengelilingi tanaman. Bisa juga menggunakan batang pohon pisang.
  5. Pada saat musim hujan jangan lupa bersihkan parit agar saluran air menjadi lancar dan tidak terjadi genangan.
  6. Pangkas daun tiang panjat yang sudah membesar untuk meningkatkan intensitas cahaya masuk ke tanaman.
  7. Lakukan pengendalian segera jika terdapat hama-hama yang mengganggu tanaman.

Pemanenan

Umumnya tanaman cabe jawa akan mulai berbuah setelah berumur 1-1,5 tahun. Namun tanaman cabe beberapa pembudidaya ada yang pernah berbuah pada umur 6 bulan. Jika buah sudah berwarna semburat merah sekitar 25-50% buah siap untuk dipanen. Cara pemanenannya dapat dilakukan dengan cara memetik buah satu persatu. Untuk menjangkau buah yang di atas atau tidak terjangkau tangan pergunakan tangga sehingga tidak merusak tanaman. Hasil produksi rata-rata tanaman cabe muda sekitar 2-3 kg per tanaman atau setara 0,5 kg buah kering. Untuk tanaman dewasa hasil produksi mencapai 4-5 kg per tanaman atau setara 1,5 kg buah kering.


Artikel Terkait : 9 Cara Menanam Cabe Rawit Agar Berbuah Lebat Dan Perawatannya


Aspek Aktivitas dan Kandungan Kimia

Buah cabe jawa mengandung minyak atsiri, piperina, piperidina, asam palmitat, asam tetrahidropiperat, undecylenyl 3-4 methylenedioxy benzene, N-isobutyl decatrans-2 trans-4 dienamida, sesamin, eikosadienamida, eikosatrienamida, guinensia, oktadekadienamida, protein, karbohidrat, gliserida, tannin, kariofelina. Kandungan piperin sekitar 2% dan minyak atsiri sekitar 1%. Minyak atsiri buah cabe jawa mengandung 3 komponen utama yaitu β-caryophyllene (17%), pentadecane (17,8%) dan β- bisabollene (11,2%).


Kandungan piperin cabe jawa lebih rendah daripada Piper nigrum dan P. longum namun lebih tinggi daripada P. cubeba dan P. betle. Buahnya yang dikeringkan merupakan sim¬plisia yang digunakan dalam pembuatan berbagai jenis jamu, sehingga disebut juga sebagai cabe jamu. Efek farmakologis adalah bersifat analgetik (penghilang rasa sakit), afrodisiak (penambah syahwat), diaforetik (peluruh/penghilang keringat), karminatif (pembuang angin), sedatif (obat menenangkan, meredakan), he¬matinik dan antelmintik (obat cacing). Buah cabe jawa memberi efek penghilang rasa nyeri atau sakit (analgesik). Piperidin dari buah cabe jawa dilaporkan mempunyai efek anti-obesitas.


Aspek Metode Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Aktif.

Senyawa piperin merupakan senyawa metabolit sekunder golongan alkaloid pada Cabe Jawa (Retrofracti Fructus Vahl). Isolasi senyawa piperin dalam cabe jawa dapat dilakukan dengan metode kromatografi kolom dengan menggunakan penjerap silica gel, eluen n- heksan dan etil asetat. Kemudian dilakukan evaluasi isolat dengan kromatografi lapis tipis.


Kemudian dilakukan KLT terhadap eluat yang didapat dari kromatografi kolom untuk menentukan keberadaan senyawa piperin ini . Pengembang yang digunakan adalah n heksan dan etil asetat. Eluat yang dilakukan KLT hanya eluat ke-5, ke-10, ke-15, ke-20, ke-25, dan ke-30. Penjerap yang digunakan adalah silika gel GF 254 dan fase gerak merupakan campuran pelarut n-heksan : etil asetat ( 8 : 2 ). Hasil dari KLT dilihat dibawah sinar UV 366 nm.


Sebelum diisolasi, dilakukan skrining fitokimia dari Retrofracti Fructus. Skrining ini bertujuan untuk melihat kandungan metabolit sekunder yang terdapat dalam Retrofracti Fructus. Retrofracti Fructus menunjukkan hasil positif mengandung alkaloid jika terbentuk endapan putih dengan penambahan pereaksi Mayer dan endapan jingga coklat dengan penambahan pereaksi Dragendorf.


Tahap awal isolasi piperin dari cabe jawa ini adalah pembuatan simplisia. Simplisia Retrofracti Fructrus dihaluskan menggunakan blender dan ditimbang sebanyak 500 gram. Penghalusan ini bertujuan untuk mendapat serbuk kasar Retrofracti Fructus. Serbuk Retrofracti Fructus kemudian dimaserasi dengan menggunakan etanol 90% selama 3×24 jam.


Ekstraksi dilakukan dengan maserasi dikarenakan senyawa isolat piperin merupakan senyawa yang termolabil sehingga ekstraksi yang dilakukan pun secara dingin, yakni dengan maserasi. Maserasi menggunakan pelarut etanol karena etanol dapat melarutkan alkaloid. Selain itu, etanol merupakan pelarut semipolar, yang dapat melarutkan senyawa polar dan senyawa nonpolar. Di dalam maserator, diberi kapas yang berfungsi untuk menyaring agar serbuk kasar simplisia tidak ikut masuk ke dalam penampung.


Filtrat dari ekstraksi yang diperoleh kemudian dipekatkan dengan menggunakan rotatory evaporator sehingga diperoleh ekstrak kental. Ekstrak kental kemudian diuji menggunakan KLT dengan fase diam silika gel GF 254 dan fase gerak n-heksan:etil asetat (7:3). KLT harus dilakukan dalam chamber yang telah jenuh dengan pengembang. Kejenuhan dapat ditentukan dari rasa hangat yang terasa didalam chamber. Hasil yang didapat dilihat dibawah sinar UV 366 nm. Berdasarkan literatur, alkaloid piperin mempunya Rf 0,3.


Ekstrak kental yang didapat kemudian di fraksinasi dengan Ekstraksi Cair-Cair (ECC). Prinsip dari ECC adalah Like dissolved like, yaitu senyawa yang polar akan cenderung larut dengan pelarut yang polar, sedangkan senyawa yang nonpolar akan cenderung larut pada pelarut yang nonpolar. Pelarut yang digunakan adalah air sebagai pelarut polar, etil asetat sebagai pelarut semipolar, dan n-heksan sebagai pelarut nonpolar.


Ekstrak kental yang didapat dilarutkan dalam sedikit etanol terlebih dahulu baru kemudian ditambah dengan pelarut air dan pelarut n-heksan. Setelah itu corong pisah dikocok sambil dibuka penutupnya untuk menghilangkan gas yang terbentuk. Kemudian di diamkan sampai terjadi pemisahan dan fraksi n-heksan yang berada pada fase bawah ditampung. Selanjutnya ditambah dengan pelarut etil asetat dan corong pisah dikocok kembali dan didiamkan sampai terjadi pemisahan lagi. Lalu fraksi etil asetat dan fraksi air masing-masing ditampung.


Artikel Terkait : Cara Menanam Kencur


Dari fraksinasi dengan ECC didapatkan 3 jenis fraksi, yakni fraksi n-heksan, fraksi etil asetat dan fraksi air. Setiap fraksi ini di KLT dengan menggunakan penjerap silika gel GF 254 dan fase gerak campuran pelarut n-heksan : etil asetat (8 : 2). Fraksi yang diduga mengandung piperin kemudian diuapkan dengan rotatory evaporator untuk mendapatkan fraksi yang kental.


Fraksi kental yang ditimbang dikeringkan menggunakan silika gel dengan perbandingan 1 : 1. Selanjutnya dilakukan isolasi dengan menggunakan metode kromatografi kolom. Kolom yang digunakan setinggi 30 cm. Penjerap yang digunakan adalah silika gel yang dibuat dalam bentuk bubur dan dimasukkan ke dalam kolom sampai setinggi 20 cm. Eluen yang digunakan adalah campuran pelarut n-heksan : etil asetat ( 8 : 2 ). Setiap eluat yang keluar ditampung dalam botol vial. Isolasi dengan menggunakan metode kromatografi kolom ini menghasilkan 30 eluat di dalam botol vial dengan masing-masing eluat sebanyak 5 ml.


Selanjutnya dari ke-30 eluat ini di ambil eluat ke-5, ke-10, ke-15, ke-20, ke-25 dan ke-30 untuk dilakukan KLT. KLT ini bertujuan untuk melihat senyawa isolat piperin berada pada eluat ke berapa. Penjerap yang digunakan adalah silika gel GF 254 dan fase gerak merupakan campuran pelarut n-heksan : etil asetat ( 8 : 2 ). Pengembangan dilakukan dalam chamber yang telah jenuh dengan pengembang.


Selanjutnya, pada eluat yang diduga mengandung isolat piperin dilakukan KLT 2 arah untuk melihat kemurnian dari isolat yang di dapat. Prinsipnya adalah dengan melihat spot yang terbentuk pada pelat silika dengan menggunakan 2 perbandingan pengembang yang berbeda. Dua sistem fase gerak yang sangat berbeda kepolarannya dapat digunakan secara berurutan sehingga memungkinkan untuk melakukan pemisahan analit yang mempunyai tingkat polaritas yang berbeda. Pengembang pertama yang digunakan adalah campuran n-heksan : etil asetat ( 8 : 2 ).


Aspek Pemanfaatan Empiris dan Ilmiah

Cabe jawa tanaman asli Indonesia dan banyak ditanam di Jawa dan Sumatera. Herbalis memakainya sebagai antipiretik, disentri, diare, lemah syahwat, tekanan darah rendah, influenza, batuk, migren, sakit kuning, demam. Pemakaian luar untuk encok dan param sesudah melahirkan.


Buahnya juga dimanfaatkan sebagai obat rematik, pegal linu, dan peluruh keringat. Akar cabe jawa untuk obat sakit gigi dan membersihkan darah dalam rahim setelah melahirkan. Penyakit lain yang bisa ditanggulangi: radang mulut, stroke, pencernaan terganggu, dan nyeri pinggang. Perempuan hamil dilarang mengkonsumsi ramuan dengan komposisi cabe jawa di dalamnya. Dalam farmakologi China disebut tumbuhan ini memiliki rasa pahit, pedas dan hangat.


Efek farmakologi ini diperoleh dari penggunaan seluruh tanaman yang dikeringkan dengan jalan diangin-anginkan. Segar : daun dan biji.

  • Gangguan pencernaan

Buah cabe jawa kering sebanyak 5 gr ditumbuk halus. Tambahkan madu secukupnya sambil diaduk merata, lalu diminum sekaligus.


  • Sakit gigi

Daun cabe jawa yang segar sebanyak 5 lembar dicuci lalu ditumbuk. Seduh dengan 1/2 gelas air panas. Selagi hangat disaring, airnya dipakai untuk kumur-kumur.


  • Kejang perut

Daun cabe jawa segar sebanyak 3 lembar dicuci lalu ditumbuk. Seduh dengan 1 gelas air panas. Selagi hangat disaring. Kemudian diminum sekaligus.


Artikel Terkait : Menanam Daun Bawang


  • Demam

Buah cabe yang kering sebanyak 3-4 g digiling halus, lalu diseduh dengan 1/2 gelas air panas. Kemudian minumlah bersama ampasnya selagi hangat.


  • Rasa lemah (neurashenia)

Cabe jawa 6 butir, rimpang alang-alang 3 batang, rimpang lempuyang ¾ jari, daun ambiloto ¾ genggam, gula enau 3 jari. Dicuci dan dipotong-potong seperlunya, di rebus dengan 4 gelas air sampai tersisa 2 ¼gelas. Setelah dingin disaring lalu diminum. Sehari 3x ¾ gelas.


  • Masuk angin.

Cabe jawa 3 btir, daunpoko (Mentha arvensis javanica Bl) ¼ genggam, adun kesumba keling (Bixaorellana L) ¼genggam, gulaenau 3 jari, dicuci bersih lalu direbus dengan 3 gelas air sampai tersisa 2 ¼ gelas. Sehari 3 x ¾ gelas.


  • Obatkuat. Membersihkan rahim sehabis melahirkan.

Akar kering 3 gr ditumbuk halus, seduh dengan air panas, minum. Sehari sekali. Pencernaan terganggu, batuk, bronchitis, ayan, demam sehabis melahirkan, penguat lambung, paru dan jantung, tekanan darah rendah, hidung berlendir. Buah mentah 6 gr yang kering ditumbuk halus, ditambah madu secukupnya.


  • Obat kumur.

Daun 3 lembar ditumbuk, diseduh dengan 1 gelas air panas, untuk kumur-kumur.

  • Pereda kejang perut.

Daun3 lembar ditumpuk, diseduh dengan 1 gelas air, minum.

  • Obaturus-urus untuk penderita penyakit hati.

Lempuyang ditumbuk, lalu diperas dan di minum dengan paling banyak3 buah cabe jawa.


Efek farmakologi buah cabe jawa an¬tara lain aktivitas antioksidan (Chanwitheesuk et al., 2005) dan potensial untuk mengobati malaria (Sud¬hanshu et al., 2012), antimikroba (Khan and Siddiqui, 2007), antibakteri (Phatthalung et al. 2012), aktivitas depresan syaraf pusat (Wo et al., 1979), antikanker (Bidarisugma, 2011), antidiabetes (Coman et al., 2012) serta merangsang perkembangan dan aktivitas organ-organ reproduksi laki-laki (efek androgenik).


Cabe jawa merupakan salah satu tanaman obat unggulan untuk dilakukan uji klinik (Dewoto, 2007) antara lain terkait dengan efek farmakologis¬nya sebagai afrodisiak (Rahardjo, 2010). Kajian efek androgenik buah cabe jawa sudah banyak dilakukan baik pada hewan percobaan maupun pada manusia. Ekstrak etanol 70% buah cabe jawa yang diteliti efek androgeniknya pada anak ayam jantan, pada dosis 3,75 mg/100 g mempunyai respon tidak beda nyata dengan bahan standar metiltestosteron (Andriol) do¬sis 500 mg/100g (Wahjoedi et al., 2004).


Ekstrak etanol 97% buah cabe jawa meningkatkan jumlah sel germinal tikus putih jantan (Mutiara et al., 2013), dan memiliki efek afrodisiaka pada libido tikus jantan (Rahmawati and Bachri, 2012). Uji klinik pengaruh ekstrak cabe jawa terhadap efek androgenik pada ma¬nusia telah dilakukan. Badan POM RI (2010) memasukkan buah cabe jawa sebagai sumber sediaan afrodisiaka dari obat asli Indonesia.


Artikel Terkait : Cara Menanam Buncis


Aspek Pengembangan Produk Komersial.

Produk obat tradisional cabe jawa yang beredar di pasaran saat ini masih terbatas pada sediaan jamu. Contoh jamu yang mengandung cabe jawa antara lain :


  • Cabe Puyang (Al-Ghurobah)

Cabe jawa atau biasa disebut sebagai cabe jamu (Piper retrofractum Vahl. syn. P. longum) adalah kerabat lada dan termasuk dalam suku sirih-sirihan atau Piperaceae. Sedangkan sebutan Puyang adalah untuk Lempuyang atau lempuyang wangi (Zingiber zerumbet, sin. Z. aromaticum) yang merupakan rimpang yang biasa digunakan untuk campuran jamu tradisional. Kombinasi yang tepat antara keduanya dibarengi dengan bahan lainnya menjadikan “Cabe Puyang” mendapat tempat dihati masyarakat Indonesia sebagai resep tradisional yang banyak manfaatnya.


Khasiat Cabe Puyang:

  • Melancarkan darah Haid dan Nifas
  • Mengobati encok dan pegal linu
  • Menghindarkan kesemutan, serta keluhan badan panas dingin atau demam
  • Sangat baik untuk masa awal kehamilan untuk mencegah risiko keguguran.

Aturan Minum:

  1. Seduh dengan air panas 1 sachet untuk 200 ml (1 gelas)
  2. Untuk pengobatan minum 3 kali sehari setelah makan
  3. Untuk menjaga kesehatan minum 2 kali sehari pagi dan menjelang tidur.

Kapsul Cabe Jawa (Herbal Indo Utama)

  • Khasiat :

  1. Menambah Stamina Dan Kebugaran
  2. Meningkatkan kesuburan Pria
  3. Mengatasi Lemah Syahwat
  4. Meredakan Encok, Pegal Linu, Rematik
  5. Menghangatkan Tubuh dan Mengusir Dingin
  6. Mengatasi Tekanan Darah Rendah
  7. Meredakan Influensa, Batuk dan Migren

  • Komplit (Sidomuncul)

  • Jamu Pegel Linu Komplit dapat mengurangi pegal dan linu karena :
    Mengandung bahan anti nyeri dan radang (merica bolong, cabe jawa, jahe, lempuyang wangi, lengkuas, beras kencur).
  • Mengandung bahan yang mengendorkan otot (merica bolong, cabe jawa, lempuyang wangi, rimpang teki, kencur)
  • Mengandung bahan yang anti lelah (ginseng).
  • Mengandung bahan yang merupakan tonik (ginseng, rimpang teki).
  • Mengandung bahan yang menambah nafsu makan (merica bolong, lempuyang wangi, jahe, kencur, rimpang teki).

Artikel Terkait : Cara Menanam Sayuran Organik Di Pekarangan Rumah Dengan Polybag


Beberapa penelitian menyebutkan bahwa cabe jawa berpotensi digunakan sebagai fitofarmaka. Moeloek et al. (2010) melapor¬kan bahwa ekstrak buah cabe jawa pada dosis 100 mg/hari dapat bersifat/bertindak sebagai fitofarmaka androgenik, yakni dapat meningkatkan kadar hormon testosteron darah dan libido pada pria hipogonad serta bersifat aman.


Penelitian tersebut menggunakan desain single blind study dengan subjek laki-laki hipogonad. Didapatkan hasil bahwa cabe jawa dapat meningkatkan kadar testosteron darah pada 7 dari 9 laki-laki hipogonad (78%), ekstrak cabe jawa dosis 100 mg/hari tidak dapat menurunkan kadar FSH dan LH pada laki-laki hipogonad, terhadap PSA dan berat badan laki-laki hipogonad, bersifat androgenik lemah dan dapat meningkatkan frekuensi koitus laki-laki hipogonad.


Demikian penjelasan artikel diatas tentang Cara Menanam Cabe Jawa : Perawatan, Bibit, Manfaat Dan Panennya semoga dapat bermanfaat bagi pembaca setia Lahan.Co.Id