Hama pada Tanaman Hidroponik

Diposting pada

Hama pada Tanaman Hidroponik

Hama pada Tanaman Hidroponik – Pengendalian Dan Cara Mengatasinya – Hama sebenarnya makhluk hidup yang sedang mencari makan untuk kelangsungan hidupnya. Namun keberadaannya yang sering memakan daun sayuran menjadikan hama termasuk organisme yang diperangi oleh petani. Untuk tanaman hidroponik, bukan berarti tanaman bebas dari serangan hama, tetap saja ada hama yang mengancam pertumbuhan tanaman.

Hama pada Tanaman Hidroponik


Sebagai petani tanaman hidroponik, tentunya wajib mengetahui hama apa saja yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Petani wajib tahu berbagai macam hama, dan nantinya petani wajib tahu bagaimana cara menghilangkan hama. Berikut, hidrafarm merangkum 9 jenis hama tanaman hidroponik yang wajib anda ketahui.


Ulat

Hama ulat ini sebenarnya sudah sangat populer di kalangan petani. Pasalnya popularitas ulat ini sendiri memang tidak perlu diragukan lagi, bahkan menjadi musuh bebuyutan bagi para petani. Juga termasuk pada petani yang tanamannya seringkali diserang oleh hama ulat. Salah satu jenis ulat yang seringkali menyerang tanaman cabai adalah ulat grayak/spodoptera litura.


Ulat jenis ini mampu memakan daun hingga benar-benar habis dalam waktu yang singkat, sehingga dapat menyebabkan kemampuan fotosintetis dari tanaman cabai menjadi terganggu. Pada serangan yang masuk dalam tahap massif menjadikan ulat grayak ini memakan habis seluruh bagian daun, bahkan hanya sekedar menyisakan tulang-tulang daunnya saja.


Semut

Semut adalah hama utama di pertanian dan perkotaan, yang dapat merusak tanaman dan menyerang wilayah pemukiman baik di luar maupun di dalam ruangan.


Lalat Buah

Lalat buah merupakan salah satu serangga hama yang menyerang tanaman buah-buahan di lapangan. Spesies lalat buah dari famili Tephritidae yang menjadi hama tanaman mencapai 4.500 spesies, dan terdapat 20 spesies dari genus Bactrocera merupakan hama penting pada buah-buahan dan sayuran di Asia (Vijaysegaran, 1998). Bactrocera spp. memiliki inang yang cukup banyak seperti: jeruk, mangga, pepaya, nangka, alpokat, pisang, tomat, apel, nenas, pear, aprikot, terong, jambu dan melon.


Kehilangan hasil akibat serangan lalat buah di Indonesia cukup besar. Hal ini disebabkan karena stadia yang merusak adalah larva yang menyerang langsung pada buah tanaman. Pada tanaman cabai kehilangan hasil dapat mencapai 80%. Luas serangan lalat buah diperkirakan 4.700 ha dengan kerugian Rp. 21,99 miliar pada tahun 2002.


Dalam menanggulangi hama ini, petani telah melakukan pengendalian secara alami, diantaranya dengan pembungkusan buah, pengurungan tanaman dengan jaring plastik, pengasapan di sekitar pohon dan lainnya. Usaha ini memungkinkan untuk luasan lahan yang relatif sempit, tetapi tidak efisien untuk lahan yang luasnya puluhan hektar. Pengendalian lain yang telah dilakukan adalah pemandulan jantan, kimiawi dan memakai perangkap dengan menggunakan atraktan/penarik.


Thrips

Hama Thrips (trhips tabaci) merupakan hama yang paling berbahaya bagi tanaman, terutama tanaman cabe. Hama ini menyerang pada daun tanaman terutama pada daun muda atau bagian pucuk tanaman. Gejala awal yang mudah dideteksi adalah jika ditemukan daun keriting dan menggulung ke atas. Akibat dari serangan hama thrips adalah daun keriting, kering lalu mati. Pertumbuhan tanaman akan terganggu dan produktifitas menurun. Pada serangan hebat bisa mengakibatkan gagal panen, karena tanaman tidak mampu berproduksi sama sekali. Serangan hama thrips juga mengakibatkan bunga-bunga kering dan rontok. Serangan pada tanaman muda menyebabkan kelayuan.


Tungau tanaman (Mite)

Hama tungau bersembunyi di balik daun. Hama tungau menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan daun di dalam jaringan mesofil hingga jaringan itu rusak. Akibatnya klorofil pada daun menjadi rusak dan menghambat proses fotosintesis tanaman. Serangan ditandai dengan munculnya bintik kuning di permukaan daun. Bintik tersebut lama-kelamaan melebar lalu berubah menjadi kecokelatan dan akhirnya menghitam. Daun menjadi keriting dan menggulung kearah bawah, menebal, berbentuk seperti sendok terbalik. Bagian bawah daun berwarna seperti tembaga dan terdapat benang-benang putih halus.


Kutu Kebul (Bemisia Tabaci)

Kutu kebul ( bemisia tabaci ) atau dipanggil juga kutu putih, secara internasional dikenal dengan silverleaf whitefly, merupakan salah satu dari lalat putih yang saat ini termasuk hama penting pertanian budidaya. Kutu kebul diklasifikasikan ke dalam keluarga Aleyrodidae, sub-urutan besar serangga, Homoptera.


Kutu kebul tumbuh subur di seluruh dunia terutama di kawasan iklim subtropis dan tropis, seperti Indonesia. Sedangkan populasi di kawasan iklim sedang tidak terlalu besar. Lingkungan dengan suhu dingin bahkan sering menyebabkan kematian larva dan lalat dewasa.


Tanaman yang dipengaruhi oleh kutu kebul sangat beragam, mencakup tanaman sayuran seperti: tomat, labu, mentimun, terong, okra, buncis dan kacang-kacangan, brokoli, kembang kol, kubis, melon, kapas, wortel, ubi jalar, dan sayuran lainnya. Bahkan banyak dari jenis tanaman buah seperti mangga, rambutan, anggur, jeruk, dll., tak luput dari serangannya.


Hama Ulat Grayak (Spodoptera sp.)

Ulat grayak dikenal juga dengan sebutan ulat tentara, karena menyerang tanaman secara bergerombol bagaikan tentara hingga daun tanaman habis dan meranggas. Tingkat kerusakan akibat serangan ulat ini cukup tinggi, bahkan Spodoptera sp. mampu menghabisi tanaman hanya dalam waktu satu malam. Seperti halnya ulat-ulat lain, ulat grayak tergolong jenis hama malam, dimana menyerang tanaman terutama pada malam hari.


Organisme pengganggu ini terdiri dari beberapa spesies, antara alain Spodoptera litura, Spodoptera exigua, Spodoptera mauritia, dan Spodoptera exempta. Tanaman terserang ditandai dengan adanya daun yang meranggas, hanya tersisa tulang daunnya saja. Ulat ini menyerang dengan cara bergerombol dalam jumlah sangat banyak, sehingga potensi kerugian petani bisa sangat tinggi.


Ulat grayak terutama menyerang tanaman pada malam hari. Hama ini tergolong polifag, hampir setiap jenis tanaman diserang habis-habisan. Serangan parah terjadi pada musim kemarau, pada saat kelembaban udara rata-rata 70% dan suhu udara18-23%. Pada saat cuaca demikian, ngengat akan terangsang untuk berbiak serta prosentase penetasan telur sangat tinggi, sehingga populasinya menjadi sangat tinggi dan tingkat serangannya jauh melampaui ambang ekonomi.


Busuk Akar Dan Rebah Semai

Penyakit Busuk Akar dan Rebah Semai biasanya menyerang tanaman saat masih di pembibitan dan tanaman muda di lahan. Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Rhizoctonia solani, yang biasanya menyerang tanaman berbatang lunak, seperti anggrek, kubis, kentang, cabai, tomat, serta beberapa jenis tanaman hortikultura lain. Tingkat kerusakan akibat serangan Rhizoctonia solani antara sedang hingga berat.


Jika terjadi serangan berat, dan penanganan terlambat, maka bisa mengakibatkan bibit tanaman di area persemaian habis. Jika terjadi serangan berat di lahan, maka harus dilakukan penanaman ulang, sehingga biaya produksi akan membengkak. Rhizoctonia solani merupakan cendawan yang sangat berbahaya, oleh karena itu, pembudidaya harus mewaspadai kehadiran cendawan ini, dengan melakukan berbagai upaya pencegahan, sehingga kerugian tidak terlalu besar.


Penyakit Rhizoctonia solani bisa menyerang umbi, akar, dan batang tanaman. Penyakit ini memang begitu tersohor lantaran bisa menggagalkan kegiatan dan tujuan budidaya. Begitu seringnya menyerang tanaman, baik di pembibitan, lahan, sehingga petani sudah cukup familiar dengan nama busuk Rhizoctonia. Bukan hanya menyerang pada fase penanaman, bahkan umbi kentang di gudang penyimpanan juga bisa terinfeksi oleh cendawan ini.


Tanaman Tumbuhan Kerdil Dan Cacat

Tanaman tumbuh kerdil dan cacat. Daun-daun menggulung atau keriting serta batangnya lemah. Penyebabnya adalah kutu. Pemherantasannya dapat dilakukan dengan memusnahkan atau membuang semua tanaman yang tumbuh tidak normal karena kutu ini. Singkirkan semua tanaman pengganggu yang menutup konrainer. Bagi tanaman yang belum kena penyakit atau terserang dalam tahap dini, bersihkan daunnya dengan air hangat sekali seminggu. Semprot daun dan batang tanaman dengan Malathion.


Daun berlubang-lubang. Penyebabnya adalah ulat. Pemberantasannya dapat dilakukan dengan megamati semua tanaman dan membunuh semua ulat yang ditemukan pada tanaman. Ujung setiap daun pada rusak dan berlubang-lubang. Penyebabnya adalah kecoa, dan lain-lain. Pemberantasannya dilakukan dengan membuang semua daun yang telah terserang, serta menyemproti bagian bagian yang terserang dengan Malathion atau jenis lain.


Tanaman Layu Dan Daun Menguning Serta Sobek

Tanaman layu, daun-daun pada sobek dan menguning, akar kelihatan membusuk. Penyebabnya adalah jamur. Pemberantasannya dapat dilakukan dengan mengganti media tanam yang digunakan dan menyingkirkan semua tanaman yang rusak. Semprot pula dengan Malathion, atau jenis lain yang ampuh memberantas jamur.

Tanaman tiba-tiba layu dan daun-daun berguguran. Penyebabnya adalah tungau putih. Pemberantasannya : Bersihkan semua kumpulan-kumpulan tungau yang menyerupai tepung ini. Semprotlah dengan Malathion. Kalau tungaunya tidak kelihatan, bisa pula digunakan kaca pembesar untuk melihat ada tidaknya tungau ini.


Tanaman layu, daun-daun pada sobek dan menguning, akar kelihatan membusuk. Penyebabnya adalah jamur. Pemberantasannya dapat dilakukan dengan mengganti media tanam yang digunakan dan menyingkirkan semua tanaman yang rusak. Semprot pula dengan Malathion, atau jenis lain yang ampuh memberantas jamur.


Tanaman tiba-tiba layu dan daun-daun berguguran. Penyebabnya adalah tungau putih. Pemberantasannya : Bersihkan semua kumpulan-kumpulan tungau yang menyerupai tepung ini. Semprotlah dengan Malathion. Kalau tungaunya tidak kelihatan, bisa pula digunakan kaca pembesar untuk melihat ada tidaknya tungau ini.

Baca Juga :


Demikian penjelasan artikel diatas tentang Hama sebenarnya makhluk hidup yang sedang mencari makan untuk kelangsungan hidupnya. semoga dapat bermafaat bagi pembaca setia Lahan.Co.Id